Syaiful Huda: Pembelajaran Tatap Muka Sebagai Terapi Psikologis dan Kehilangan Identitas Pelajar

Syaiful Huda: Pembelajaran Tatap Muka Sebagai Terapi Psikologis dan Kehilangan Identitas Pelajar

Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, mengatakan, dibuka kembali pembelajaran tatap muka sebagai terapis psikologi dan mengembalikan status pelajar. Berbagai kesiapan telah dilakukan.

Genap setahun pandemi Covid-19, sektor pendidikan mengalihkan sistem pembalajaran dengan metode dalam jaringan (Daring). Namun pembelajaran Daring tersebut keefektifannya hanya sebesar 30 persen.

Berangkat dari kekhawatiran menurunnya elektabilitas pelajar, Komisi X, Syaiful Huda, merancang regulasi untuk membuka kembali pembelajaran tatap muka. Hal ini bermula sejak tahap vaksinasi tenaga pendidik telah diberlangsungkan.

Deputi Bidang Pendidikan dan Agama Kemenko PMK Agus Sartono menerangkan, dibuka kembalinya pembelajaran tatap muka secara nasional bisa dilakukan pada kondisi angka penularan landai.

“Harapan seiring dengan upaya lain jika angka penularan sudah landai dan sesuai anjuran WHO, maka bisa saja secara nasional kegiatan [belajar] tatap muka dibuka. Nanti bulan April kita evaluasi lagi kesiapan dan kemungkinan bisa dibuka secara nasional,” kata kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/3).

Di samping itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menjelaskan, pembelajaran tatap muka akan dibuka bulan Juni-Juli. Kendati demikian, persiapan telah dilakukan sejak per Maret 2021.

Persiapan tersebut bermula dengan sosialisasi uji coba pembelajaran tatap muka. Uji coba tersebut berlangsung secara bertahap alias bukan dibuka secara serentak pada bulan Juni-Juli. Tetapi bermula dari sekolah yang memang sudah siap membuka kembali pembelajaran tatap muka.

Kesiapan sekolah dinilia melalui status wilayah sekolahnya. Kemudian kesiapan menjalani protokol kesehatan dan jumlah guru yang sudah divaksinasi.

” Tidak ada istilah dibuka serentak pembelajaran tatap muka serentak
Tapi parsial masing-masing kesiapan sekolah,” terang Huda.

Selain mensosialisasikan syarat sekolah untuk bisa ikut andil dalam uji coba pembelajaran tatap muka, Syaiful Huda dengan sapaan Kang Huda pun terus memantau berjalannya uji coba dengan kolaborasi efektif bersama
Kemendikbud dan dinas pendidikan kota-kabupaten.

” Pemantauan ini menjadi kunci, supaya uji coba tersebut menjadi data pertimbangan di Juni-Juli mendatang,” pungkas.

Hingga kini, terdapat 170 sekolah dari total 232 sekolah di wilayah Bogor yang telah memberlangsungkan uji coba. Selain itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mengatakan, uji coba harus prioritaskan jenjang tertinggi (SMA/SMK/MA SMP/MTS).

” Dari jumlah 232 sekolah yang diusulkan hasil verifikasi dan validasi yang lolos berjumlah 171 sekolah, dan ada satu sekolah MTs yang mengundurkan diri, jadi total izin yang dikeluarkan Disdik sebanyak 170 sekolah,” terang Retno di siaran Indonesia Pagi Kompas TV.

Menurut Kang Huda, langkah awal pembelajaran tatap muka ini, sebagai trapis psikologi dan mengembalikan posisi anak-anak sebagai pelajar. Hal ini terjadi akibat pengalihan sistem pembelajaran menjadi Daring.

” Prinspinya adalah, pembukaan tatap muka bulan Juli, semangatnya [sebagai] bagian terapis psikologis. Intinya supaya dapat suasana sekolah kembali [karena] anak-anak telah kehilangan posisi [dirinya] sebagai pelajar. Itu saja, level ini bisa kita tuntaskan bulan Juli,” tutup Kang Huda.

Penulis: M haydar

Editor: Andi H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *