Ketimbang Ganjar, PDIP Lebih Realistis Gandeng Gus Ami Di Pilpres 2024

Polemik yang terjadi antara Puan Maharani dengan Ganjar Pranowo menjadi isyarat, bahwa Gubernur Jawa Tengah itu bukanlah bakal calon presiden yang diinginkan para elite PDI Perjuangan pada Pilpres 2024 mendatang.

Polemik bermula ketika Puan melontarkan sindiran bahwa pemimpin harusnya selalu hadir di lapangan, bukan di medsos (media sosial). Hal itu dikatakan Puan saat pertemuan kader PDIP se-Jateng, di mana Ganjar tidak diundang pada pertemuan itu.

Meskipun tak menyebut nama, publik menafsirkan sindiran tersebut ditujukan kepada Ganjar yang memang sangat aktif di medsos. Dan menurut sejumlah survei, elektabilitasnya paling tinggi di antara beberapa sosok yang potensial maju pada 2024.

Melihat polemik ini, Muhammad Ikhyar memprediksi bahwa para elite PDIP memiliki kandidat lain untuk diusung sebagai Capres/Cawapres 2024. Sehingga posisi Ganjar Pranowo sebagai Bacapres saat ini seperti ‘bergantung tak bertali’. Karena PDIP sebagai tempatnya bernaung justru merespons negatif popularitas yang telah ia bangun.

“Ganjar atau tim suksesnya lupa, bahwa menurut UU syarat Capres itu ditentukan oleh Parpol. Setinggi apapun elektabilitas dan popularitas seorang tokoh, menjadi sia-sia jika tidak dicalonkan oleh Parpol,” ujar Koordinator Forum Aktivis 98, Muhammad Ikhyar Velayati Harahap di Medan, Selasa (25/5).

Ikhyar menambahkan, kultur politik Parpol di Indonesia masih ditentukan oleh Ketum yang bersangkutan. Sehingga elektabilitas tokoh bukan poin utama.

“Seharusnya mereka paham, bahwa kultur politik di Indonesia, khususnya PDIP, elektabilitas dan popularitas bukan kriteria utama dalam memilih Capres, Cagub, maupun Cabup. Yang paling utama adalah loyalitas terhadap partai, dalam hal ini loyalitas terhadap ketua umum,” sindir Ikhyar, dilansir Kantor Berita RMOLSumut.

Ikhyar melanjutkan, tokoh yang punya elektabilitas tinggi jika tidak melakukan komunikasi politik yang baik dengan elite Parpol terutama dengan ketua umumnya, hanya akan sia-sia.

“Peluang Ganjar, Anies, dan Ridwan Kamil kecil untuk jadi Capres 2024, walau punya elektabilitas dan popularitas yang tinggi. Justru yang paling berpotensi menjadi Capres/Cawapres 2024 adalah para Ketua Umum Partai. Yaitu Muhaimin Iskandar, Prabowo, Puan Maharani (mewakili Mega), dan AHY,” jelasnya.

Menurut Ikhyar, justru PDIP lebih berpotensi dan realistis menggandeng Muhaimin Iskandar alias Gys Ami untuk dipaketkan dengan Puan Maharani dalam Pilpres 2024.

“Hal ini disebabkan elektabilitas PKB dan Muhaimin Iskandar sudah menggeser Golkar dan Airlangga. Kedua, PDIP dan PKB punya basis massa dan ormas pendukung yang ril dan loyal di akar rumput”, ujarnya.

Selain itu, yang tak kalah penting, PDIP membutuhkan PKB dan NU untuk merawat PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal IKA, NKRI, UUD 45) di tengah berkembang dan menguatnya intoleransi di Indonesia.

AFFiNE