Gus Muhaimin sebut Carina Joe Wajah Ilmuwan Indonesia di Kacamata Dunia, Ajak Generasi Penerus Jadi Carina di Tanah Air

Wakil Ketua DPR RI, Gus Muhaimin sangat bangga atas perjuangan Carina Joe dalam mengembangkan vaksin AstraZeneca dengan penemuan formula 30 mililiternya. Ia menyatakan, Carina jadi wajah Ilmuwan Indonesia di kacamata dunia.

Selain itu, Gus Muhaimin pun menyatakan bahwa peran Carina harus ada yang melanjutkan. Maka dari itu, ia mengharapkan pemerintah memperhatikan bidang kesehatan sehingga dalam meningkatkan kapasitas tidak terganggu kurangnya fasilitas.

” Carina Citra Dewi Joe..Ilmuwan Indonesia, membanggakan Kita tapi di negeri orang, ayo jadilah Carina-carina baru disini di rumah kita sendiri, buatkan vaksin yang menyelamatkan dunia,” ungkap Gus Muhaimin seperti dilansir pada akun twiternya (31/10).

Diketahui Ilmuwan Indonesia ini, Carina Citra Dewi Joe, menjadi perwakilan untuk menerima penghargaan Pride of Britain di bidang kesehatan pada sabtu malam di London (31/10).

Pride of Britain Awards merupakan ajang penghargaan atas pencapaian orang-orang yang berperan besar dalam membuat kondisi dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik.

Penghargaan tersebut berkat penemuan Carina Joe dalam menciptakan formula ‘dua sendok makan sel’ atau formula 30 mililiter sel pada 15 Januari 2020. Dari penemuannya itu, vaksin Oxford AstraZeneca bisa diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu singkat.

Lebih lanjut Ketua tim manufaktur Oxford AstraZeneca, Sandy Douglas menyatakan penemuan anggotanya itu, Carina Joe, menjadi solusi untuk produksi vaksin dengan harga semurah mungkin.

Menurut Sandy, formula ini sangat penting bagi dunia, khususnya negara berkembang. Kata Sandy, melalui formula ini negara berkembang tidak harus sepenuhnya bergantung pada negara lain untuk pengadaan vaksin di negaranya.

” Formula ini sangata penting. Pertama, jumlah vaksin yang didapat dari jumlah tertentu sel, sangat terkait dengan harga. Jadi, formula Carina ini sangat produktif sehingga (vaksin) dapat dibuat dengan harga murah.”

“Dan yang kedua, yang sangat penting juga adalah formula ini sangat sederhana sehingga dapat ditranfer ke berbagai fasilitas seperti Serum Institute of India, yang belum pernah memproduksi produk seperti ini sebelumnya. Namun cukup sederhana sehingga dapat dipelejari dengan cepat dan kami dapat menyerahkannya ke fasilitas manufaktur di seluruh dunia,” tambah Sandy.

Namun di balik itu semua, perjuangan Carina sepanjang penelitiannya bukan perkara gampang. Apalagi penelitian tersebut dilakukan seorang diri.

“Satu hal yang sangat tak biasa tentang apa yang dilakukan Carina adalah, dia mengerjakannya sendiri. Saya rasa perusahaan dengan skala manufaktur seperti Pfizer tidak akan begitu tergantung pada satu orang saja, mereka pasti punya tim orang yang berpengalaman sangat besar.” Terang Sandy.

Sementara itu, Carina menyatakan dirinya hampir menyerah atas penelitian itu akibat tekanan yang begitu besar, tanpa tahu pasti apakah vaksinnya akan berhasil dikembangkan atau gagal.

“Saya sempat bilang, saya mau berhenti, saya tak bisa lagi lakukan ini. Nangis-nangis di depan bos. Mereka berikan pengertian. Mau gimana lagi, cuma kamu yang melakukan, tidak ada gantinya lagi. Mau sakit atau tidak tetap harus dikerjakan,” kata Carina ketika ditemui di laboratorium Jenner Insitute, Universitas Oxford Agustus lalu.

” Bos saya bilang, kita melakukan hal yang tepat. Ini mungkin satu hal yang sangat penting yang kita lakukan dalam karir kita karena banyak orang meninggal, jadi kita lakukan yang terbaik, demi kemanusiaan,” ceritanya lagi sambil mengingat kerja non stop tanpa istirahat tahun lalu.

Berkat formula Carina, saat ini vaksin Oxford AstraZeneca – dengan lokasi produksi di lebih selusin laboratorium di lima benua – digunakan di lebih 170 negara, termasuk Indonesia.

Haydar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *